Ketika Anak Berkelahi Dengan Teman Bagian 2

Jangan Ikut-Ikutan Emosi

Ketika melihat anak bertengkar dengan temannya, tak perlu ikut-ikutan emosi yang malah membuat persoalan bertambah runyam. Lagi pula, pertengkaran anak bukan seperti pertengkaran orang dewasa. Biasanya, beberapa saat setelah bertengkar, mereka akan kembali baikan, melupakan permasalahan yang sudah terjadi. Tidak seperti orang dewasa, hingga berbulan-bulan mungkin mereka akan mengingat terus masalah yang dipertengkarkan sehingga merusak hubungan persahabatan atau persaudaraan.

Kalau ingin terlibat, damaikan mereka, minta mereka saling meminta maaf, berjabat tangan, berjanji untuk tidak bertengkar kembali, bermain bersama, dan sebagainya. Tetapi jika pertengkaran tak sekadar cekcok mulut, sudah melibatkan fisik, segera pisahkan anak. Setelah tenang, ajak mereka menyelesaikan kon”iknya, arahkan bahwa pertengkaran fisik hanya akan saling menyakiti.

Minta mereka berdamai, berjabat tangan, lalu bermain bersama kembali. Kita juga perlu melihat, apakah anak lain memiliki permasalahan pada dirinya atau tidak. Umpama, si teman ternyata mengalami gangguan perilaku seperti hiperaktif. Anak hiperaktif umumnya tak mampu mengontrol perilakunya. Selain sangat aktif, ia pun kerap menciptakan “keonaran” yang membuat resah teman-temannya. Contoh, merebut barang, melompat-lompat di atas meja, berteriak-teriak, dan sebagainya. Jika kita tidak paham, mungkin akan mencap mereka sebagai anak bandel.

Tetapi jika kita paham, kita bisa memaklumi dan mengarahkan anak bagaimana bersikap di depan anak hiperaktif tersebut untuk menghindari terjadinya pertengkaran, “Kak, Erwin ada masalah, dia sakit, makanya perilakunya agresif. Kamu menghindar saja, ya!” Gangguan perilaku juga bisa disebabkan oleh pola asuh yang keliru. Misalnya, sering dihukum fisik, dibentak, direbut mainannya, maka tak mustahil ia akan mencontoh dan mempraktikkannya pada temannya. Lebih parah lagi jika anak sering melihat orangtuanya cekcok mulut, bahkan pertengkaran fisik, sangat mungkin anak akan menirunya.

Ia kerap mencari gara-gara, bersikap sewenangwenang, dan kasar terhadap temannya sehingga terjadi pertengkaran. Kondisi ini sebaiknya disikapi secara bijaksana dengan melibatkan orangtua, sekolah, ataupun ahli seperti psikolog untuk mengatasi masalah yang dihadapi anak tersebut. Jika tidak dilakukan, maka pertengkaran dengan anak kita akan terus terjadi. Intinya, selama tidak melibatkan fisik, biarkan anak belajar mengatasi pertengkarannya dengan teman.